15 Agustus 2026

Akar Masalah Pendidikan dan Beban Biaya Belajar Keluarga

Akar-Masalah-Pendidikan-dan-Beban-Biaya-Belajar-Keluarga

Pendidikan di Indonesia masih menghadapi tantangan besar yang melampaui sekadar persoalan capaian nilai akademik peserta didik. Ada banyak sekali masyarakat Indonesia merasa biaya untuk menempuh pendidikan berkualitas terus melonjak dari waktu ke waktu. Kondisi ini tentunya akan memicu keprihatinan mendalam dari berbagai praktisi dan pengamat sektor pendidikan di Tanah Air.

CEO and Co-Founder Smartick Indonesia yang sekaligus pakar pendidikan, Galih Sulistyaningra, menyoroti akar masalah pendidikan adanya fenomena kenaikan beban finansial keluarga untuk pendidikan anak. Galih Sulistyaningra menilai bahwa ketergantungan orang tua pada lembaga pendidikan swasta dan bimbingan belajar tambahan menandakan adanya masalah mendasar. Sistem pendidikan nasional ini sendiri masih belum mampu untuk menghadirkan standar mutu yang merata di seluruh jenjang sekolah.

 

Fenomena Perburuan Sekolah Swasta dan Bimbingan Belajar Tambahan

Galih Sulistyaningra mengungkapkan semakin banyak orang tua yang berlomba-lomba memasukkan anak ke sekolah swasta. Fenomena ini berlanjut dengan keputusan para orang tua untuk mendaftarkan anak pada program bimbingan belajar atau les berbayar setelah jam sekolah. Pola konsumsi pendidikan seperti ini membuat anggaran rumah tangga untuk kebutuhan belajar membengkak.

Lulusan Master dari University College London (UCL) Inggris ini menegaskan bahwa situasi tersebut merupakan sinyal peringatan bagi dunia pendidikan. Orang tua merasa harus mengeluarkan dana ekstra demi memastikan anak mendapatkan pembelajaran yang layak. Apabila layanan di sekolah dasar dan menengah memenuhi standar optimal, masyarakat tidak perlu memikul beban finansial tambahan.

 

Kesenjangan Kualitas Pembelajaran di Sekolah Publik

Akar dari mahanyal biaya belajar terletak pada ketimpangan standar mutu pembelajaran, khususnya pada negeri. Galih Sulistyaningra menjelaskan bahwa layanan pendidikan pada sekolah negeri harus mampu untuk memberikan pemahaman materi yang tuntas bagi seluruh siswa. Ketika proses belajar di kelas utama berjalan maksimal, siswa tidak membutuhkan bantuan pengajaran dari luar sekolah.

  • Pemerataan Mutu: Kualitas pengajaran di sekolah publik belum setara antarwilayah.
  • Fungsi Bimbingan Belajar: Les tambahan berubah fungsi dari pilihan menjadi keharusan.
  • Aksesibilitas Ekonomi: Keluarga kurang mampu makin tertinggal akibat keterbatasan biaya les.
  • Efisiensi Anggaran: Optimalisasi fasilitas sekolah negeri dapat menekan pengeluaran keluarga.

Galih Sulistyaningra menilai bahwa program bimbingan belajar atau les seharusnya hanya berfungsi sebagai sarana opsional untuk mengembangkan potensi khusus anak. Lembaga bimbingan belajar tidak boleh menjadi penutup celah dari kekurangan sistem pengajaran utama. Ketergantungan pada les luar sekolah membuktikan bahwa proses kegiatan belajar mengajar harian belum efektif secara menyeluruh.

 

Urgensi Reformasi Standar Pengajaran dan Peran Pendidik

Sebagai sosok penerima beasiswa LPDP yang pernah berprofesi sebagai guru sekolah dasar, Galih Sulistyaningra memahami betul dinamika di dalam kelas. Pendidik membutuhkan dukungan sistemik untuk meningkatkan kompetensi dan metode penyampaian materi secara interaktif.  Tanpa perbaikan metode pengajaran, siswa akan terus kesulitan memahami materi dasar seperti matematika dan literasi.

Pemerintah dan pemangku kepentingan perlu memfokuskan anggaran untuk meningkatkan kualitas guru dan sarana pembelajaran harian. Penyelenggaraan kelas yang adaptif dapat membantu setiap murid menyerap pelajaran sesuai dengan kecepatan belajar masing-masing. Langkah ini akan mengembalikan fungsi sekolah sebagai tempat utama pembentukan karakter dan kecerdasan anak.

 

Dampak Kesenjangan Pendidikan Terhadap Keadilan Sosial

Kondisi pendidikan yang mahal akibat kebutuhan les tambahan berpotensi memperlebar jurang kesenjangan sosial di masyarakat. Anak-anak dari keluarga berkecukupan dapat dengan mudah mengakses bimbingan belajar berkualitas tinggi di luar sekolah. Sebaliknya, anak-anak dari keluarga kurang mampu terpaksa bertahan dengan fasilitas dan mutu pengajaran seadanya.

  • Ketimpangan Capaian: Murid berlatar belakang mampu mendominasi prestasi akademik.
  • Beban Psikologis: Siswa mengalami kelelahan akibat jadwal belajar yang terlalu padat.
  • Ancaman Mobilitas: Keterbatasan akses pendidikan mutu menghambat pemutusan kemiskinan.
  • Krisis Kepercayaan: Masyarakat mulai meragukan efektivitas sekolah umum.

Jika pemerintah tidak membenahi ketimpangan ini secara cepat dan tepat, maka pendidikan tidak lagi berfungsi sebagai alat kesetaraan sosial. Pendidikan justru berisiko untuk menjadi sarana pelanggengan status sosial bagi pihak-pihak yang mampu membayar biaya yang jauh lebih mahal. Oleh karena itu, perataan mutu sekolah umum menjadi agenda mendesak yang harus diselesaikan secara cepat.

 

Rekomendasi Solusi untuk Menekan Biaya Pendidikan

Untuk mengatasi masalah biaya belajar yang kian membengkak, Galih Sulistyaningra mendorong adanya perbaikan mendasar dari tingkat kebijakan. Pemerintah daerah dan pusat harus bekerja sama merumuskan pemetaan mutu di setiap satuan pendidikan. Evaluasi berkala terhadap efektivitas pengajaran di kelas harus menjadi prioritas utama. Pemanfaatan teknologi interaktif juga dapat membantu guru dalam menyampaikan materi secara lebih jernih dan menyenangkan agar akar masalah pendidikan bisa diatasi.

Platform belajar berbasis teknologi pintar seperti Smartick hadir untuk membantu anak memahami konsep matematika dan logika secara mandiri tanpa tekanan berlebih. Pemanfaatan teknologi terjangkau dapat menjadi alternatif solusi untuk mendukung proses belajar anak di rumah.

 

Menatap Masa Depan Pendidikan Indonesia yang Inklusif

Pandangan yang disampaikan oleh CEO Smartick Indonesia Galih Sulistyaningra menjadi peringatan penting bagi seluruh pengambil kebijakan pendidikan. Upaya menekan biaya pendidikan tidak cukup hanya dengan memberikan bantuan operasional sekolah. Pemerintah harus memastikan bahwa setiap rupiah yang dialokasikan benar-benar berdampak pada peningkatan mutu pengajaran di dalam kelas.

Ketika sekolah-sekolah publik mampu menyajikan pendidikan yang unggul dan ramah anak, para orang tua tidak perlu lagi merasa cemas.  Biaya pendidikan dapat ditekan secara alami tanpa mengurangi hak anak untuk mendapatkan ilmu pengetahuan terbaik. Dunia pendidikan Indonesia diharapkan dapat segera mewujudkan sistem yang inklusif, merata, serta terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat.